RESPONSIBILITY

May 30th, 2007 by arie-joel

Responsibility adalah bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai tanggung jawab. Responsibility jika diurai adalah “response – ability”. Dalam bahasa Indonesia Response artinya adalah : jawaban, balasan ; tanggapan, reaksi. Sedangkan ability artinya adalah : kecakapan, bakat, kemampuan ; ketangkasan, kesanggupan. Dari uraian tersebut saya mengartikan responsibility sebagai kecakapan, bakat, kemampuan, ketangkasan dan kesanggupan individu / kelompok / benda dalam mengolah atau menyikapi sesuatu yang berasal dari faktor internal maupun eksternal yang ada guna membuahkan hasil maksimal yang positif.

Dalam situasi dan kondisi lingkungan / masyarakat yang “sehat” response–ability mempunyai kualitas dan kuantitas yang seimbang, proporsional, tepat dan harmonis, dan (atau)  response–ability  yang seimbang, proporsional, tepat dan harmonis kualitas dan kuantitasnya akan menghasilkan situasi dan kondisi lingkungan / masyarakat yang “sehat” atau ideal.

Sebaliknya dalam situasi dan kondisi lingkungan / masyarakat yang tidak sehat (chaos) response–ability  mempunyai kualitas dan kuantitas yang tidak seimbang dan kurang tepat, dan (atau) response–ability  yang tidak seimbang dan kurang tepat akan menghasilkan situasi dan kondisi lingkungan / masyarakat yang tidak sehat (chaos).

Berhubungan dengan response–ability saya mempunyai pertanyaan yang saya tujukan untuk diri saya sendiri (dan Anda jika berkenan) ;

·        Jika Anda ditawarkan suatu posisi yang mengharapkan tingkat response tinggi (misalkan level 9 pada skala 1-10) sedangkan ability Anda hanya berada pada level 6, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan menolaknya, atau menerimanya begitu saja tanpa peduli akan tingkat ability Anda yang hanya berada pada level 6? Atau Anda menerimanya diiringi dengan tekad untuk meningkatkan ability Anda secara maksimal guna mencapai level ability yang dibutuhkan?.

·        Jika Anda ditawarkan suatu posisi yang mengharapkan tingkat response rendah (misal level 5) sedangkan Anda merasa memiliki ability yang berlevel 9, apa keputusan Anda? Apakah Anda akan menolaknya atau menerimanya begitu saja dengan rendah hati tanpa memperdulikan tingkat ability Anda yang semestinya memperoleh posisi yang lebih tinggi? Atau apakah Anda akan menerimanya dengan hati yang kesal dan merasa orang yang menawarkan posisi tersebut tidak menghargai Anda sebagaimana mestinya?

Setiap tipe orang akan memiliki jawaban yang berbeda. Mana atau apa jawaban yang paling tepat?. Untuk mengukur ketepatan jawaban kita, sebaiknya kita merenungi sabda Rasulullah saww berikut ini, “Jika suatu pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggu saja saat kehancurannya”, demikian kurang lebih sabda Rasulullah saww.

Tak peduli seberapa besar tinggi posisi dan kemampuan Anda saat ini, peningkatan kualitas response dan kualitas (dan kuantitas) ability sebaiknya senantiasa dilakukan. Kenalilah ability Anda, maksimalkan guna menghadapi tantangan yang ada saat ini dan di hari kemudian. Jika saat ini lingkungan Anda adalah lingkungan yang “tidak sehat” jangan lantas Anda terhanyut dan mematikan potensi ability Anda, tenang saja, tetaplah tingkatkan repsonse-ability Anda, setidaknya Anda telah berbuat baik untuk jiwa Anda sendiri, syukur-syukur orang lain dapat menirunya.

Temukan ability Anda yang sesungguhnya, berjalanlah sesuai dengannya, nikmati kepuasan, keindahan hidup bersama ability yang Anda miliki. Saat ini saya meyakini bahwa kita akan mendapatkan prestasi hidup yang sesungguhnya jika kita mampu mengenali, mengembangkan, memaksimalkan kemampuan kita yang sesungguhnya dan mengaplikasinnya dalam kehidupan sehari-hari guna meraih kemaslahatan bagi diri kita, keluarga, kerabat dekat dan lingkungan sekitar kita. Semakin banyak kemaslahatan yang Anda hasilkan, semakin berkualitas response-ability Anda.

Jika Anda mempunyai peran seorang Ayah maka Anda memiliki responsibility sebagai ayah, tingkatkan ability Anda sebagai ayah hingga mampu memberikan response terbaik untuk keluarga Anda.

Jika Anda mempunyai peran sebagai seorang ibu maka Anda memiliki responsibility sebagai ibu, tingkatkan ability Anda sebagai seorang ibu sehingga mampu memberikan response terbaik untuk keluarga Anda.

Demikian seterusnya. Mohon maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

Proporsional Dalam Memberikan Cinta

May 30th, 2007 by arie-joel

Tahukah Anda bagaimana cara mengukur besarnya rasa cinta Anda terhadap suatu subjek atau objek? Adakah alat untuk mengukurnya secara pasti? Pertanyaan pertama masih mungkin bisa kita jawab, namun pertanyaan kedua hampir mustahil jawabannya ada. Karena memang cinta adalah aktifitas hati, jiwa dan pikiran seorang manusia dan mahluk hidup lainnya yang hampir mustahil diukur kadar dan kualitas nya dengan dengan suatu alat.

Ada lagi pertanyaan yang lebih lagi, yaitu tahukah Anda konsekwensi dari mencintai sesuatu bagi kehidupan Anda di dunia saat ini dan kehidupan setelah dunia ini?. Pertanyaan ini sebenarnya untuk diri saya sendiri, karena saya kerap melihat dan mengalami kompleksitas rasa ini. Cinta? Suatu rasa yang tak nampak namun mempunyai efek yang luar biasa dalam hidup dan kehidupan seseorang. Dalam tulisan ini saya sungguh-sungguh mengajak pembaca untuk sama-sama merenunginya agar kita mampu menyikapi rasa ini dengan tepat.

Cinta menurut Ibnu Qayyim Al Jawziyyah.

“Tidak mungkin cinta didefinisikan secara lebih jelas kecuali dengan cinta lagi. Definisi cinta adalah wujud cinta itu sendiri. Cinta tidak dapat digambarkan lebih jelas dari pada apa yang digambarkan oleh cinta lagi”, kata Ibnu Qayyim dalan Madarij Al Salikin.

Cinta tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi menurut Ibnu Qayyim, cinta dapat dirumuskan dengan memperhatikan turunan kata cinta, mahabbah, dalam bahasa arab. Mahabbah berasal dari kata hubb. Ada lima makna untuk kata hubb :

  1. Al shafa wa al bayaah, putih bersih.

  2. Al ‘uluww wa al zuhur, tinggi dan tampak

  3. Al luzum wa al tsubut, terus menerus dan menetap

  4. Lubb, inti atau sari pati sesuatu

  5. Al Hafizs wal imsak, menjaga dan menahan.

Demikian yang dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya yang berjudul Rindu Rasul.

Dari lima makna tersebut saya ingin mengajak diri saya sendiri dan Anda untuk mengukur kecintaan kita pada subjek / objek dengan makna-makna tersebut.

Pertama, putih bersih melambangkan ketulusan, kejujuran dan kesetiaan. Sudahkah hal ini Anda miliki dalam menyinta?

Kedua, tinggi dan nampak, menempatkan subjek / objek yang dicintai pada “tempat yang tinggi” dan menampakannya dalam dalam bentuk sikap dan perlakuan kita kepada yang kita cintai, sehingga akan lebih mengutamakan kehendak atau kepentingan yang kita cintai dari pada kepentingan kita sendiri.

Ketiga, terus menerus dan menetap, tidak mau berpisah atau jauh dari kekasih.

Keempat, inti atau sari pati sesuatu, inti adalah yang paling berharga, kesediaan “pecinta” untuk memberikan apa yang paling berharga yang dimilikinya untuk yang dicintainya.

Kelima, menjaga dan menahan, berusaha menjaga, memelihara dan mempertahankan kecintaannya.

Demikian ukuran besarnya cinta kita pada sesuatu, semakin mendekati lima makna tersebut maka cinta kita semakin besar. Siapa atau apakah yang paling Anda cintai dalam hidup ini? Seberapa besar cinta Anda kepadanya? Kepada siapakah hendaknya kita memberikan cinta terbesar kita?

…………………………………………………………

Pada zaman Rasulullah saww, pada suatu hari seorang Arab dari dusun datang ke masjid Nabi, beberapa saat sebelum shalat didirikan. Ia menyeruak, memotong barisan, mendekati Nabi saw. Beliau sedang bersiap-siap untuk sholat. Dengan berani arab dusun tersebut bertanya, “Ya Rasulullah, kapan kiamat terjadi?” Anas bin Malik, yang melaporkan peristiwa ini kepada kita berkata,”Kami takjub ada orang dari dusun bertanya kepada Nabi Saw.” Rasulullah Saw melakukan sholat tanpa menjawab pertanyaan itu. Usai sholat, beliau menghadap kepada jamaahnya, “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat itu?”. Orang dusun itu berkata, “Saya ya Rasulullah”. Rasulullah bertanya,”Apa yang sudah kamu persiapkan buat hari kiamat?”. Mendengar pertanyaan Nabi saw itu seluruh keberaniannya hilang. Ia menundukkan kepalanya. Ia bergumam: “Demi Alloh, aku tidak mempersiapkan amal yang banyak, tidak sholat yang banyak dan tak puasa yang banyak. Tetapi saya mencintai Alloh dan Rasul-Nya”. Kemudian Nabi saw bersabda, ”Innaka ma’a man ahbabta!”. (Engkau bersama orang yang engkau cintai). Seperti tanaman yang baru disiram air, orang Arab dusun itu bangkit dengan suka cita. Para sahabat lain merasa bahwa mereka pun seperti dia. Mereka tidak punya bekal yang cukup untuk hari kiamat selain kecintaan kepada junjungan mereka, Rasulullah saw. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ucapan engkau itu hanya berlaku buat dia?”. Tidak, kata Nabi saw, ia berlaku untuk kalian dan umat sepeninggal kalian. Kata Anas : Belum pernah aku melihat sahabat Nabi saw teramat gembira seperti pada waktu itu. (Demikian yang dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya yang berjudul Rindu Rasul.)

Sabda Rasulullah saw bahwa seseorang akan bersama yang dicintainya pada hari akhir saya yakini kebenarannya. Awalnya timbul pertanyaan bagaimana saya bisa mencintai Rasulullah saw, padahal pengenalan saya terhadap Rasulullah saw sangat minim? Tidak mudah memang, perlu proses! Untungnya saat ini banyak sekali buku-buku tentang sejarah Nabi Muhammad Saw, sebagai langkah awal yang mudah ya bacalah sejarah Rasulullah saw secara detail dengan penuh penjiwaan, selami dan resapi, dengan itu pengenalan kita terhadap Rasulullah saw akan lebih komprehensif, banyak bertanya dengan orang yang mumpuni, niatkan untuk mencintai Rasulullah saw. Insya Alloh, cepat atau lambat akan timbul rasa cinta kepada Rasulullah saw dan keluarganya yang mulia.

Lalu apakah dengan demikian (mencintai Rasulullah saw) saya tidak boleh mencintai yang lainnya? Tidak, tidak demikian. Saya meyakini dengan mencintai Rasulullah saw kita akan mampu mencintai segenap yang ada di sekitar kita dengan cinta yang proporsional. Kita akan mencintai orang tua kita dengan tepat, kita akan mencintai pasangan kita dengan dosis dan motivasi yang mulia, kita akan mencintai keluarga, kerabat, lingkungan dan segenap mahluk dengan cinta yang indah penuh keseimbangan dan keharmonisan. Dengan mencintai Rasulullah saw saya yakin kehidupan kita akan semakin berkualitas. Selamat menyelami dan mencintai Rasulullah saw, Anda memasuki zona kemuliaan yang akan mewarnai hidup Anda dengan kebahagiaan.

Kembali pada kekinian kita saat ini. Siapa atau apa yang kita cintai selama ini? Dapatkah yang kita cintai saat ini mampu menghadirkan kebahagiaan dan menghantarkan kita pada kebahagiaan di akhir nanti?

Bagaimana jika yang paling kita cintai saat ini adalah orang tua kita bukan Rasulullah saw? Bagaimana jika yang kita cintai saat ini adalah keluarga kita, anak-anak kita, kerabat dekat kita, pekerjaan kita dan hal-hal lain, bukan Rasulullah saw? Apakah kita salah? Tenang….. tenang ….. tenang…. kalau saat ini Rasulullah saw tidak kita cintai sebagai mestinya Rasulullah saw dicintai, ya sudah belajarlah untuk mencintainya. Dengan mencintai Rasulullah kualitas cinta kepada segenap yang kita cintai saat ini akan meningkatkan, kualitas cinta yang berkualitas tinggi, cinta terbaik, Insya Alloh.

Demikian….. yuk yuk yuk …. kita sama-sama belajar untuk dapat mencintai Rasulullah saw.

PUTUS CINTA

May 30th, 2007 by arie-joel

Semua yang biasanya indah dinikmati, kegiatan-kegiatan yang biasanya menggugah semangat dan membahagiakan, lagu-lagu yang biasanya enak didengar dan segenap aktivitas lain yang biasa-biasa aja semua jadi nyebelin gak enak dijalanin, serba salah, udah gitu berdiam lama-lama sambil ngerenungin sesuatu yang abstrak. Begitulah kurang lebihnya kejadian yang dialami oleh beberapa orang pada saat putus cinta. Mengapa perasaan gak enak seperti itu bisa ada ya?. Jawabannya akan sangat bervariasi jika kita tanyakan pada tiap orang yang pernah mengalami putus cinta. Namun sepertinya ada kesamaan warna pada jawaban-jawaban tersebut.

Mengapa kekecewaan kerap hadir pada orang yang tengah putus cinta?. Menurut saya, perasaan gak enak tersebut sangat wajar sekali bahkan merupakan indikasi seberapa besar pengharapan seseorang pada hubungan yang telah putus tersebut. Ekstrimnya, semakin besar kecewa yang dialami berarti semakin besar cintanya pada subjek / objek yang dicintainya.

Dalam konteks tulisan kali ini permasalahannya bukan pada besarnya rasa kecewa yang dialami namun pada sejauh mana seseorang mampu menyikapi situasi tersebut dengan sikap terbaik yang dapat dilakukan melalui proses perenungan yang tepat.

Apa saja sih yang perlu direnungi atau dianalisa ketika seseorang tengah mengalami putus cinta?. Banyak sekali yang perlu direnungi, kalau saya lebih suka menganalisanya dengan membuat kronologis terjalinnya hubungan, yaitu dari awal kenal sampai dengan peristiwa putus terjadi, setelah itu menganalisa setiap moment yang pernah terjalin. Selanjutnya penganalisaan mengenai  motivasi, cara menjalani hubungan, proses pembentukan komitmen, kualitas diri, kualitas komunikasi, kejujuran dalam berekspresi, bersikap dan berkata dan keinginan untuk mau berkorban dan mau berubah ke arah yang lebih baik dan hal-hal yang tak nampak lainnya namun sangat fundamental dalam suatu hubungan. Dalam “hubungan cinta” ada hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik, ada hal-hal yang tidak bisa dikompromikan, ada hal-hal yang bisa dikompromikan dan ada hal-hal yang tidak perlu dikompromikan sama sekali. Diperlukan kejujuran pada diri sendiri saat merenung guna mengefektifkan proses perenungan. Momen putus cinta sebaiknya dijadikan momen terbaik untuk merenung, yaaaa bolehlah sedih sampai nangis tapi jangan lama-lama dan terlalu didramatisir karena putus cinta bukan akhir dari sebuah hubungan bahkan pada beberapa orang , peristiwa putus cinta malah merekatkan hubungan dalam bentuk / komitmen yang lain dan lebih bermakna, hubungan persaudaraan yang tulus dapat tercipta di antara orang yang telah putus cinta.

Berikut ini beberapa hal atau pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya layak untuk dijadikan materi kontemplasi bagi orang yang tengah putus cinta, dengan harapan “sang perenung” dapat menjadi lebih bijak setelah putus cinta.

Apa sih motivasi awal Anda berkomitmen dengan mantan pasangan Anda?. Apa saja sih kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri Anda dan mantan pasangan Anda?. Apa saja sumber konflik yang kerap terjadi di antara Anda berdua?. Apakah sumber tersebut berkisar pada hal-hal yang memang tidak dapat dikompromikan, atau hal-hal yang sebenarnya masih dapat dikompromikan?. Apakah Anda telah jujur dalam bersikap dan bertutur?. Sudahkah Anda mengerapkan segenap potensi Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam mencapai titik maksimal yang dapat Anda raih sesuai dengan segenap potensi yang ada untuk diri Anda sendiri dan untuk pasangan Anda?. Terakhir dan terpenting adalah, sudahkah Anda tulus dalam mencintai pasangan Anda dan ingin menghantarkannya pada kualitas hidup yang baik bagi kehidupan saat ini dan kehidupan setelah dunia ini?.

Demikian semoga bermanfaat. Saya tidak ingin melihat seseorang sedih kala putus cinta, saya ingin ucapkan pada orang yang tengah putus cinta, “SELAMAT PUTUS CINTA, Anda tengah memasuki zona yang dapat membawa Anda pada tingkat kebijaksanaan yang lebih tinggi jika Anda mampu merenunginya dengan baik dan tepat”

Bahkan Mimpi Kita pun Sebaiknya Sama.

March 14th, 2007 by arie-joel

Kesamaan visi dan misi pada dua orang atau lebih relatif akan lebih melanggengkan suatu hubungan. Malah terkadang hubungan akan berjalan saling mengisi walau di antara mereka tidak ada komitmen apapun. Sebaliknya walaupun suatu hubungan telah terjalin dengan adanya komitmen namun jika ada perbedaan visi dan misi hidup, hubungan terebut dalam jangka panjang relatif lebih rawan akan kerenggangan bahkan perpisahan. Demikian hasil pengamatan saya sementara ini.

Dalam bahasa puitis biasanya visi dan misi diwakilkan oleh kata “mimpi”. Kali ini saya membatasi pembahasan pada mimpi dua orang (satu pasangan) laki-laki dan perempuan yang tengah menjalin hubungan, yang serius tentunya.

Banyak ragam motivasi seseorang dalam menjalin hubungan serius dengan orang lain. Motivasi ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor lingkungan sosial, geografis, wawasan, kebutuhan hidup, tingkat kedewasaan dan faktor-faktor lainnya.

Menurut pendapat saya saat ini suatu hubungan akan berjalan dengan relatif lebih baik jika dilandasi dengan persamaan mimpi, berkomitmen untuk menjalin hidup bersama mewujudkan mimpi. Mimpi seperti apa? Tentunya mimpi yang berlandaskan pada nilai-nilai mulia yang diajarkan oleh agama yang kita yakini. Mengapa mimpi yang seperti itu? Karena menurut pendapat saya mimpi yang tidak berlandaskan pada nilai-nilai mulia suatu saat akan menemukan kehampaan. Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Iya, karena jiwa kita pada dasarnya condong bahkan sangat membutuhkan nilai-nilai mulia yang substansial, jika mimpi kita tidak berorientasi pada hal tersebut jiwa kita akan tetap “dahaga”, kebutuhannya belum bahkan tidak terpenuhi. Karena itu kita senantiasa dianjurkan untuk senantiasa belajar, bahkan kewajiban belajar ini dilukiskan sebagai proses yang tiada akhir, dari buaian sampai ke liang lahat.

Bagaimana dengan pasangan yang sudah terlanjur berkomitmen namun mempunyai mimpi yang tidak berorientasi pada nilai-nilai mulia substansial? Jawabnya, ya segera ubah mimpinya, banyak belajar, banyak bertanya pada orang yang mumpuni dan bertekad untuk menjalani hidup berdasarkan nilai-nilai mulia substansial.

Bagaimana dengan karakter masing-masing? Bagaimana dengan hobi atau kebiasaan hidup masing-masing? Apakah mesti sama juga? Oooo kalau hal-hal tersebut di atas tidak perlu sama persis. Beda-beda tipis bahkan beda banget juga tidak apa apa, yang penting mimpinya sama. Kalau dalam agama ada istilah furu’iyah atau cabang, di mana pada wilayah ini orang boleh beda, namun dalam hal-hal yang sifatnya mendasar tidak boleh beda. Untuk lebih jelasnya tanya sama pak ustadz ya, dalam hal ini saya tidak begitu menguasai secara detail.

Perbedaan-perbedaan dalam “wilayah” yang bukan “wilayah utama” akan membuat hidup jadi lebih berwarna, ada proses saling mengisi kekurangan masing-masing. Jika kita mampu mensinergikan perbedaan tersebut proses mewujudkan mimpi akan terjadi relatif lebih cepat dan tidak menjemukan. Konflik kecil, mara-marahan sebentar, ngambek-ngambekan sesaat sepertinya akan menjadi bumbu yang membuat hidup makin sedap dinikmati. Asal jangan kebanyakan bumbu nanti makanan jadi tidak enak disantap malah jadi bikin enek. Demikian kurang lebihnya, maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

………………………………………………………………….

Ya… terkadang butuh waktu untuk meneliti kembali hati kita sebelum melangkah.

Dedicated to : my pretty sweety little angel. Just want you beside me, always.!!!

Jatuh Cinta Dan Cinta

March 14th, 2007 by arie-joel

Jatuh cinta adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan suatu rasa unik yang ada pada hati, jiwa, dan pikiran seorang manusia. Rasa ketertarikan yang luar biasa terhadap suatu subjek atau objek tertentu. Biasannya rasa unik ini disertai dengan “kebahagiaan” yang indah untuk dinikmati, entah berapa lama “kebahagiaan” tersebut bersemayam di dalam hati, jiwa dan pikiran manusia yang tengah jatuh cinta. Lamanya kebahagiaan yang bersemayam dalam hati, jiwa dan pikiran seseorang yang tengah jatuh cinta sangat tergantung pada motivasi orang tersebut dalam mencintai sesuatu dan “respon balik” dari subjek atau objek yang dicintainya.

Mengapa istilahnya JATUH CINTA? Bukannya TERBANG cinta, NAIK cinta atau istilah lain yang menggambarkan rasa bahagia dan semangat? JATUH…??? Bukankah jatuh itu adalah suatu kondisi yang pada umumnya berkonotasi negatif? Jatuh berarti berubah posisi dari tempat yang relatif lebih tinggi ke tempat yang relatif lebih rendah melalui proses yang biasanya tidak direncanakan dan tidak diharapkan. Ehmmm………. mungkin orang yang pertama kali “mempopulerkan” istilah ini ngawur dan tidak ahli dalam bahasa atau sastra. Ngawur..??? tidak juga ya… Kalo ngawur kenapa istilah tersebut bisa bertahan lama, berarti orang-orang yang menggunakan istilah ini ngawur juga dong.

Penasaran dengan istilah jatuh cinta membuat saya berpikir semalaman. Dengan menempatkan istilah jatuh cinta sebagai istilah yang benar dan sedikit memaksakan dalam “membela” istilah ini agar menjadi istilah yang layak digunakan. Akhirnya saya merenungi apa saja sikap yang tercipta pada diri seseorang yang tengah jatuh cinta. Ehmm…… ternyata jika sedang jatuh cinta, seseorang rela tuh ninggalin “jadwal” aktifitas hobi mereka jika itu menyangkut kepentingan orang yang dicintainya padahal sebelumnya tidak ada yang bisa ganggu “jadwal” tersebut. Jika tengah jatuh cinta sebagian besar orang akan dengan rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi seseorang yang dicintainya. Hebatnya lagi orang yang tengah jatuh cinta terkadang dengan rela dan senang hati melayani keperluan orang yang dicintainya. Ternyata… egonya JATUH dan tidak ada lagi jika menyangkut kepentingan orang yang diCINTAInya. Demi orang yang dicintainya seseorang akan dengan rela menJATUHkan dirinya di atas sebuah granat atau bom yang akan meledak demi melindungi orang yang dicintainya. (Gak percaya? Lihat saja film-film perang).

Entah benar atau tidak gambaran yang saya berikan tentang sikap orang yang tengah jatuh cinta yang jelas saya ingin mengingatkan orang-orang yang dengan mudah berkata,”Aku sedang jatuh cinta”. Jangan bilang jatuh cinta jika kita belum bisa menjatuhkan ego kita demi orang yang kita cintai. Jangan bilang jatuh cinta jika kita belum siap menjatuhkan diri di atas granat yang akan meledak demi melindungi orang yang kita cintai. Jika sudah mampu bersikap seperti itu, maka kita layak berkata, “Aku jatuh cinta”.

Namun… namun… namun belum cukup sampai disitu. Jika kita sudah “terlanjur” jatuh cinta langkah selanjutnya adalah meneliti kembali motivasi kita dalam mencintai dan memperdalam lagi wawasan kita tentang arti kata cinta. Bahasan mengenai hal ini membuat saya “merinding” karena demikian ideal hingga terbersit dalam hati, “Mampukah saya mencintai orang lain?”. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena dengan sengaja saya mengambil referensi tentang bahasan ini dari tulisan M. Quraish Shihab mengenai Al Wadud (Yang Maha Mencintai – Yang Maha Dicintai) dalam bukunya yang berjudul Menyingkap tabir Ilahi. Berikut saya mengutip beberapa penggal tulisannya ;

Kata Al Wadud terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf wauw dan dal berganda, yang mengandung arti “cinta” dan “harapan”. Demikian Ibnu Faris dalam bukunya “Maqayis”. Pakar tafsir Al Biqa’iy dalam “Nazem Ad durar”-nya berpendapat lain. Menurutnya rangkaian huruf tersebut mengandung arti “kelapangan” dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. …………………………………

Seseorang yang meneladani Alloh dalam sifat Wadud dituntut untuk selalu mencintai mahluk dan mengharap buat mereka apa yang dia harapkan untuk dirinya, seandainya ia berada dalam posisi mereka, bahkan ia mendahulukan mereka atas kepentingan dirinya sendiri. Dengan demikian ia akan menjadi objek sekaligus subjek cinta. Ia akan dicintai serta mencintai atau dengan kata lain ia menjadi wadud dalam kemampuannya sebagai mahluk. …………………………………………..

Untuk lebih jelasnya baca sendiri aja ya bukunya. Di toko buku ternama banyak kok. Terlepas Anda sepaham atau tidak dengan penulisnya (M. Quraish Shihab) namun setidaknya jika tulisannya mampu “memperbaiki” kualitas diri kita, mengapa tidak?.

Demikian, semoga bermanfaat.

……………………………………………………………………………………………………………..

Cantikku, jika cintaku padamu adalah cinta buta, campakkan aku dengan kata-kata terketus yang bisa kau ucapkan.

Cantikku, jika cintaku padamu menjauhkan aku dari Alloh maka hinakan aku dengan hinaan yang paling hina yang bisa kau lontarkan.

Cantikku, jika cintaku padamu tidak bisa membawamu pada perbaikan kualitas diri maka tutuplah hatimu untukku serapat mungkin yang kau bisa.

Namun………….

Jika cintaku karena pengabdianku pada Alloh

Jika cintaku karena ingin membawamu pada kedekatan dengan Alloh

Jika cintaku karena ingin menjadikan dirimu sebagai bidadariku kelak di hari nanti

Jangan kau palingkan wajahmu,

Jangan kau tutup hatimu,

Jangan kau campakkan diriku

Karena walaupun kualitas cintaku belum sempurna namun kala dekatmu hasrat menyempurnakan rasa cinta senantiasa ada.

Cantikku ……..

Aku cinta padamu.

Dedicated to : my pretty swetty little angel.

SAMA tapi BEDA

March 14th, 2007 by arie-joel

Cerita di bawah ini adalah fiktif.

Ba’da Ashar di sebuah masjid yang teduh terlihat seorang anak muda yang menggunakan kaos oblong warna hitam yang sudah tidak lagi berwarna hitam (mendekati abu-abu karena lusuh) dan bercelana jeans yang hampir robek pada bagian lututnya, ia tengah asyik merokok, wajahnya teduh dan masih basah oleh air wudhu. Sepertinya ia baru aja selesai sholat. Paras wajahnya enak dilihat, ada jenggot dan cambang yang sengaja dibiarkan tumbuh liar.

Di tengah keasyikannya menghisap rokok ia dihampiri oleh pemuda (sebaya dengan dia) yang berpenampilan sangat rapih, berkemeja, bercelana berbahan halus, yaaa seperti orang kantoran lah, jenggot pemuda “rapih” ini tidak selebat jenggot pemuda lusuh tadi.

Sesaat diam, pemuda “rapih” ini tiba-tiba berkata pada pemuda “lusuh”. “Maaf mas, kalo di masjid tidak boleh merokok!”, pemuda rapih menegur dengan intonasi medium (gak nyampe bentak-bentak sih). “Oh maaf mas tadi habis sholat mulut saya asem banget pengen ngerokok”, jawab pemuda lusuh sambil mematikan rokoknya dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu pemuda rapih kembali menasehati,”Mas lain kali kalo sholat kita sebaiknya mengenakan pakaian yang rapih dan bersih, masa’ sih menghadap Alloh pake pakaian kaya’ gini. Bukannya nasehatin nih mas, merokok itu gak baik buat kesehatan dan makruh hukumnya bahkan ada yang berpendapat haram”. “Iya mas, terima kasih atas nasehatnya”, jawab pemuda lusuh dengan sopan. “Seperti saya nih mas dari dulu gak pernah ngerokok, lagian uangnya kan bisa ditabung daripada buat beli rokok”, tambahan nasehat keluar dari mulut pemuda rapih. Sang pemuda lusuh hanya senyum dan sesekali menjawab “Iya mas” mendengar nasehat dari pemuda rapih. Di mata pemuda rapih ini, pemuda lusuh yang ia nasehati adalah sosok pemuda yang tidak ideal sama sekali jauh dari ideal yang ada di benaknya.

Sesaat diam, mereka tetap duduk berdekatan, ekspresi pemuda lusuh tenang-tenang saja sedangkan ekspresi pemuda rapih masih bersemangat untuk menasehati bahkan terkesan menghakimi pemuda lusuh.

Hening sesaat……. “Ngomong-ngomong nama mas siapa?” Nama saya Inal mas”, si pemuda lusuh berkata memecah keheningan sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman kepada pemuda rapih. “Oh… nama saya Bukhari, ayah saya menamakan saya dengan Bukhari karena beliau kagum dengan seorang ulama ahli hadits yang bernama Imam Bukhari. Ngomong-ngomong nama kamu kok gak umum ya…. Inal??? Artinya apa ya?”, pemuda rapih menjawab pertanyaan singkat pemuda lusuh dengan jawaban yang sangat panjang disertai pertanyaan. “Gak tahu mas Inal artinya apa?”, jawab pemuda lusuh santai. “Lagi pula Inal itu nama panggilan saya aja kok”, si pemuda lusuh menambahkan jawabannya. Belum sempat Si Inal menyebutkan nama lengkapnya Si Bukhari ini kembali menasehati Inal,”Begini Nal, nama seseorang itu sangat penting artinya dalam hidup seseorang. Jadi kalo nama kita gak bagus dan gak punya makna kita boleh kok menggantinya dengan nama yang baik dan mempunyai makna. Kita jangan terjebak dengan istilah “barat” apa artinya sebuah nama…. Nama kita harus mencerminkan aqidah kita.!!!”. Si Inal mendengarkan dengan serius sesekali menganggukkan kepala. Raut wajah Bukhari pun serius, ia bergumam dalam hati, “Hebat juga nasehat gue. Si Inal aja dalam waktu singkat sudah mulai mendengarkan nasehat-nasehat gue. Memang Si Inal ini bener-bener “berantakan” banget orangnya”

Hening sesaat………. Tiba-tiba datang seorang pemuda rapih lain yang usianya nampak lebih tua dari mereka berdua. “Asalamualaikum, pakabar Nal, pakabar Bukhari”, pemuda dewasa ini mengucapkan salam, ternyata dia kenal dengan Inal dan Bukhari. “Wa’alaikum salam”, jawab Inal dan bukhari serempak. “Kabar saya baik Bang Zul, Bang Zul sendiri gimana? Semoga Alloh senantiasa memberikan kebaikan dan hikmah kepada Bang Zul”, jawab Si Inal sembari menanyakan dan berdoa untuk Bang Zul. Sementara Bukhari hanya menjawab dengan singkat pertanyaan Bang Zul, “Alhamdulillah saya baik baik Bang”.

Waahhh berkah sekali hari ini, ternyata kamu teman Inal juga ya Bukhari?”, tanya Bang Zul kepada Bukhari. “Iya Bang, saya baru aja kenal sama Inal”, jawab Bukhari. “Syukur deh. Oh ya Bukhari boleh gak abang kasih saran?”, tanya Bang Zul. “Boleh banget”, jawab Bukhari. “Kamu mesti bersyukur bisa kenal dengan Inal, karena banyak pelajaran tentang kebulatan tekad dan presatasi dalam mengubah menuju yang lebih baik yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup Si Inal ini”, kalimat tersebut diucapkan Bang Zul dengan pelan namun pasti. “Nal gak apa apa kan kalo Abang menceritakan sedikit tentang kamu kepada Bukhari?” Bang Zul meminta ijin kepada Inal. “Duuhhhh… gimana ya Bang… Saya jadi gak enak nih Bang”, jawab Inal sepertinya ragu-ragu.

Begini Bukhari, dulu Si Inal ini bengaaaaaaaal banget, jarang ada di rumah, sering mengembara ke daerah-daerah yang jauh, suka minum miras dan ngisap ganja. Tapi walaupun gitu dia gak pernah sombong dan baik hati sama semua orang. Bang Zul kenal dia dari kecil. Alhamdulillah setelah dia beranjak dewasa dia berubah. Dia telah bertekad untuk menjadi anak yang shaleh, awalnya memang dia berat sekali meninggalkan kebiasaan buruknya namun dengan kebulatan tekad ia mampu melepaskan diri dari miras dan ganja. Sekarang Abang dan Inal tengah membangun proyek sosial untuk memberikan pendidikan keahlian seperti kursus komputer, bahasa asing, dan iqra bagi anak-anak yang kurang mampu. Sekarang dia lagi mengadakan penelitian sosial tentang anak-anak “tongkrongan”, jadi untuk lebih menyelami dan lebih diterima oleh anak-anak tongkrongan dia berpenampilan seperti ini. Ya gak terlalu sulit lah buat Si Inal, kan dulunya dia juga anak tongkrongan. …… Udahan dulu ya ceritanya, nanti Abang sambung lagi, Abang mau sholat dulu nih, tadi rada macet di jalan jadi gak bisa sholat tepat waktu deh”, Bang Zul menutup pembicaraannya sambil berjalan menuju tempat wudhu. “Oh ya Nal, Bukhari, kalian sudah sholat?” tanya Bang Zul. Si Inal hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Bang Zul. Bukhari tersentak kaget. “Be…be… belum Bang”, jawab Bukhari dengan gugup. “Ya sudah, ayo kita sholat berjamaah!”, ajak Bang Zul kepada Bukhari. “Bang maaf saya gak bisa nunggu Abang, saya mau langsung jalan”, Si Inal berkata kepada Bang Zul.”Ya udah gak apa apa Nal”, jawab Bang Zul. “Oh ya Mas Bukhari, nama lengkap saya Zayn Al Abidin Duta Pratama Arya. Asalamualaikum”, Si Inal memberi tahu nama lengkapnya kepada Bukhari karena tadi ia tidak diberi kesempatan untuk memberitahukannya sembari mengucapkan salam. “Wa’alaikum salam”, jawab Bang Zul dan Bukhari serempak. Si Inal melangkah dengan tenang keluar masjid sementara Bang Zul berwudhu Si Bukhari masih terpana melihat Si Inal yang melangkah keluar masjid.

Demikian cerita fiktif ini saya akhiri. Nyambung gak sih dengan judulnya, SAMA tapi BEDA..???

Begini, maksud dari cerita ini sebenarnya mengungkapkan fenomena yang kerap terjadi. Satu orang yang SAMA mungkin mempunyai nilai yang BEDA, tergantung pada siapa yang menilainya dan sejauh mana pengenalan orang yang menilai terhadap orang yang dinilainya.

Menurut pendapat saya saat ini, ada baiknya sebelum kita menilai orang lain lebih baik kita mau mengenalnya lebih dulu secara mendalam. Tidak perlu waktu lama sih untuk mengenal orang lain secara mendalam, yang penting menurut saya adalah ketulusan dalam berkomunikasi, dengan komunikasi yang tulus Insya Alloh kita akan dapat mengenal orang dengan baik. Lebih banyak mendengar dari pada berbicara adalah salah satu kita yang patut dipertimbangkan.

Demikian, mohon maaf jika kurang berkenan dan tidak sependapat dengan pembaca.

Dedicated to : my lovely guitars Thifal & Luthfi.

Stagnasi Kreativitas

March 14th, 2007 by arie-joel

Sewaktu masih sekolah atau kuliah berkumpul dengan teman-teman yang mempunyai visi dan misi yang sama biasanya terlahir satu bahkan beberapa ide kreatif, dan biasanya ide yang lahir secara spontan mempunyai tingkat orisinalitas yang tinggi. Namun tatkala masing-masing memasuki dunia kerja atau usaha dan frekuensi pertemuan semakin berkurang ide kreatif jarang muncul bahkan tidak muncul sama sekali. Masing-masing orang telah sibuk dengan kegiatan atau rutinitas masing-masing, dan yang paling mengenaskan pada sebagian besar orang “idealisme masa muda” hilang entah kemana ditelan oleh rutinitas sehari-hari. Hari-hari dalam hidup sepertinya sudah tertata secara permanen, bagi yang bekerja ; bangun pagi – kerja – pulang – istirahat – tidur dan seterusnya, demikian kurang lebih siklusnya. Kalaupun libur, biasanya diisi dengan istirahat di rumah atau jika waktu benar-benar senggang dan ada uang lebih pergi ke Mal atau rekreasi bersama keluarga. “Idealisme masa muda” benar-benar hilang kalaupun masih ada, optimisme untuk mewujudkannya hanya ada pada level 3 (skala 1-10).

Mengapa bisa terjadi ??? Entahlah.??? Saat inipun saya mengalami hal seperti itu. Sepertinya butuh keberanian ekstra untuk menyelaraskan “idealisme masa muda” dengan rutinitas “wajib” kita sehari-hari. Idealnya sih dua kubu tersebut dapat berjalan beriringan. Namun kalau ternyata sangat bertentangan dan tidak bisa diselaraskan maka kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan rutinitas (yang pada sebagian orang) permanen dan itu-itu saja atau hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” yang penuh tantangan dan warna. Mana yang lebih baik..??? Jawaban untuk pertanyaan ini berbeda-beda bagi tiap orang, tergantung pada skala prioritas dalam hidup masing-masing individu. Dalam hal ini tidak ada keputusan yang salah atau benar, yang ada adalah sejauh mana keputusan kita dapat menghasilkan manfaat yang maksimal bagi diri kita, orang terdekat kita dan lingkungan sekitar.

Sungguh betapa bahagia seseorang yang mampu hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” dan dapat memberikan hasil yang maksimal dan perubahan positif dalam prosesnya. Namun sungguh merugi orang yang hidup dalam mewujudkan “idealisme masa muda” yang negatif, idealisme yang tidak mampu mengantarkan diri pada perbaikan kualitas diri yang positif.

Maaf, tulisan ini hanya ingin mengingatkan agar saya dan pembaca tidak “membunuh” potensi kita dalam melahirkan ide-ide kreatif yang positif. Lahirkan dan wujudkan ide kreatif kita, syukur jika dapat menghasilkan sesuatu yang lebih untuk keluarga.

Demikian, mohon maaf jika tidak sependapat dengan pembaca.

Dedicated to : my bands ; Al Farabi, Alma, Bizinks. Where are you guys..??? &  Generasi Bumi Foundation.

Temanku Sudah Jadi Seorang Ibu.

March 14th, 2007 by arie-joel

Dari dulu sampe sekarang saya tidak pernah menemukan tempat kursus untuk menjadi seorang ibu yang bijaksana dan penuh perhatian terhadap anaknya. Sama sekali tidak pernah saya temukan tempat “Kursus Menjadi Ibu Yang Bijaksana” di pinggir-pinggir jalan raya yang penuh dengan papan nama berbagai macam jenis kursus seperti kursus bahasa asing, komputer, dan lain lain. (Jika ada kursus menjadi Ibu itu ada kasih tahu saya ya… Mungkin karena keterbatasn saya hingga saya tidak pernah menemukannya). Walaupun kursus seperti itu tidak ada namun saya heran kenapa seorang wanita muda yang sudah jadi Ibu dapat dengan terampil berperan sebagai Ibu yang penuh perhatian kepada anaknya, penuh pengorbanan bagi anaknya, mereka sangat sensitif terhadap sesuatu yang berkenaan dengan anak mereka, begitu terampil mereka memperlakukan setiap fase yang dilewati anak mereka. Ibu-ibu ini akan sangat antusias menceritakan perkembangan anak-anak mereka kepada kerabat dekat. Luar biasa deh pokoknya sikap mereka.

Temanku sekarang sudah banyak yang jadi seorang Ibu. Kagum bercampur haru jika melihat foto-foto mereka sewaktu masih sekolah, luar biasa kemampuan mereka dalam menjalani masa transisi yang sedemikian berat, dengan tanggung jawab yang makin besar mereka malah terlihat lebih berbahagia. Mereka telah terbang menyentuh titik maksimal sebuah pengabdian terhadap kehidupan, sadar atau tidak apa yang mereka berikan kepada anak-anak mereka mempunyai nilai yang sangat besar di hadapan Alloh Ta Ala jika mereka mampu senantiasa menjalaninya dengan diiringi ketulusan niat untuk beribadah dan karena Alloh semata.

Saat ini saya kerap minta nasehat dari mereka tentang banyak hal padahal dulu jangankan minta nasehat, ngobrol pun jarang banget. Sungguh saya ingin banyak belajar dari teman-teman yang sudah memasuki level hidup yang lebih tinggi dari saya. Ingin kuserap segenap kebijaksanaan dan ketulusan seorang Ibu. Hingga diri ini mampu bersikap bijak di kemudian hari.

Saat ini, dengan perubahan status dan tanggung jawab, nilai mereka pun berbeda. Kini, tawa mereka, canda mereka, tangis mereka, kelelahan mereka sarat akan makna, sarat akan nilai mulia.

Selamat untukmu teman, semoga hari-hari yang kau lalui adalah hari-hari indah sarat akan nuansa surga.

Terima kasih………………

Dedicated to my friends : Lina Mulyani & young mothers.

Keep your heart full of wisdom.

Istighfar

March 3rd, 2007 by arie-joel

Sebagian dari kita mungkin pernah dihinggapi keraguan akan masa depan. Pernah menghadapi situasi dan kondisi sulit yang membuat kita “lemah” tidak tahu lagi mau berbuat apa?. Pernah dibenturkan kepada persoalan yang melumpuhkan hati, bahkan putus asa. Pernah dihinggapi rasa kecewa yang mendalam dan perasaan-perasaan yang gak enak lainnya. Kita seolah tidak bisa menghindar dari itu semua, kita seolah berada di dalam kotak hitam yang gak ada pintunya, gelap, sulit untuk menemukan jalan keluar.

“Haahhhh”, tarik nafas dalam-dalam sudah berkali-berkali, sembari megangin kepala pula, mikir sudah berjam-jam tapi tetap saja jalan keluar belum ketemu, tetap aja “pusing”, gak tahu mau gimana lagi. Ibarat ponsel sudah ngedrop banget, perlu dicharge lagi, mending kalau chargernya ada, udah ngedrop charger tak ada pula. Kompleks banget deh permasalahan. Dalam kondisi kaya’ gini baca buku yang mengarahkan kita untuk tetap optimis sekalipun kadang gak mempan. Curhat dengan teman atau orang terdekat kita sekalipun belum tentu mampu mengurangi beban dalam hati dan pikiran. Seolah-olah sendirian dalam menghadapi masalah besar. Jika sudah seperti ini, gak ada pilihan lain selain bersujud lama-lama kepada Tuhan Sang Pencipta kita, Alloh Ta’ Ala. Curhat habis-habisan dengan Alloh, akuin aja semua kesalahan kita, gak perlu takut, Alloh Maha Pengampun kok. Akui kelemahan kita, gak perlu malu, memang kita manusia yang lemah kok. Ajukan segala harapan-harapan kita, yakinkan hati Alloh Maha Kaya, Maha Besar, Maha Penyayang, Maha Memberi. Menangislah di hadapan Alloh senangis-nangisnya. Berlama-lamalah menghadap Alloh, jujurlah di hadapan Alloh Yang Maha Mengetahui.

Teman, jika datang kemudahan setelah kesulitan mari kita sama-sama mengingatkan diri kita untuk senantiasa dapat berlama-lama dalam sujud kepada-Nya. Ingatkan aku untuk senantiasa mesra kepada-Nya.

Ya Alloh, ampuni aku yang kerap lupa akan keagungan-Mu, Ya Alloh ampuni aku yang kerap angkuh melangkah kala kemudahan Kau anugerahkan kepadaku.

Ya Alloh ampuni aku,

Ya Alloh ampuni aku,

Ya Alloh ampuni aku.

Media Darahati

March 3rd, 2007 by arie-joel

Media Darahati adalah nama teman saya (wanita). Saya bertanya padanya,”Nama lu unik banget, apa sih artinya?”. Menurut dia (yang di dapat dari orang tuanya) artinya adalah ; Media itu diambil darikata medium (pertengahan), Dara adalah wanita, hati ya hati. Jadi kalau digabung artinya adalah “Anak wanita yang senantiasa berada di tengah-tengah hati kedua orang tuanya”. Mendengar penjelasannya hati saya jadi terharu gitu….. “Hebat benar orang tuanya memberi nama”, gumamku dalam hati. Nama…….

Pada sebagian besar orang tua, nama yang diberikan kepada anaknya adalah harapan agar anaknya mampu menjadi indah seperti namanya. Konsekuensinya adalah orang tua akan berusaha maksimal dalam mendidik anaknya agar mampu menjadi indah seperti namanya.

Tulisan kali ini bukan ingin membahas tentang wanita cantik yang bernama Media Darahati, namun ingin membahas tentang arti namanya yang menurut saya layak untuk dikaji lebih dalam. “Anak (wanita) yang senantiasa berada di tengah-tengah hati kedua orang tuanya”. Terbaca jelas bahwa seorang anak demikian mengisi hati kedua orang tuanya. Hampir sebagian besar orang tua di dunia akan menempatkan anak di hati mereka, kasih sayang, daya upaya tercurah demi membahagiakan hati anak dan menghantarkannya pada kehidupan yang lebih baik, bahkan lebih baik dari diri mereka sendiri.

Mengenai “sepak terjang mulia” orang tua yang sudah melegenda saya tidak ragu lagi. Saat ini saya ingin mengingatkan diri saya sendiri (dan teman-teman kalau mau) tentang posisi kita sebagai seorang anak. Tantangannya saat ini adalah bagaimana saya dan teman-teman mampu senantiasa berada di hati ke dua orang tua kita, dengan keberadaan yang membahagiakan dan mendamaikan orang tua kita (walaupun salah satu bahkan keduanya saat ini telah tiada).

Teman …….

Sudahkah kita membahagiakan hati orang tua kita?

Adakah orang tua di dalam hati kita?

Bahagiakah orang tua kita dengan sikap kita selama ini?

Damaikah orang tua kita dengan kondisi kita saat ini?

Kapan terakhir kali kita berkomunikasi dengan mereka?

Kapan terakhir kali kita mencium tangan bahkan kaki mereka?

Bagaimana perlakuan kita selama ini terhadap mereka?

Sudahkah kita panjatkan doa untuk mereka?

Sudahkah kita berdoa hingga menangis untuk kebahagiaan orang tua kita?

Demikian, semoga setiap kali kita bertemu orang tua, kita dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian pada mereka. Semoga keberadaan kita di hati orang tua adalah keberadaan yang sarat akan makna dan membahagiakan. Semoga aku mampu untuk senantiasa mendoakan mereka hingga senantiasa damai.

Thanks to Media Darahati. You have a beautiful name !